Baru-baru ini, pemerintah Laos mengambil tindakan tegas dengan mengembalikan 41 warga Thailand yang terlibat dalam perjudian online ilegal. Tindakan ini adalah bagian dari upaya signifikan Laos untuk membasmi jaringan-jaringan ilegal yang beroperasi di wilayahnya, khususnya di Vientiane. Penggerebekan dan Pemberhentian Penangkapan dilakukan pada 22 Juli, ketika otoritas Laos menggerebek sejumlah tempat yang disinyalir sebagai markas besar kegiatan perjudian ilegal. Akibat operasi ini, sebanyak 30 perempuan dan 11 laki-laki ditangkap dan kemudian diserahkan kepada otoritas Thailand di Nong Khai pada 10 Agustus.
Individu-individu yang dipulangkan ini sebelumnya bekerja sebagai pengelola situs perjudian di Kamboja sebelum berpindah ke Laos. Perpindahan mereka terjadi pasca konflik di perbatasan Thailand-Kamboja, menyebabkan mereka kembali ke Thailand dan kemudian memasuki Laos melalui pos perbatasan Nong Khai. Di Laos, para pekerja ini menyewa tempat tinggal dan diduga membentuk jaringan operasi perjudian online. Dalam penyelidikan, mereka mengaku bekerja untuk tiga situs web perjudian dengan jam kerja hingga 12 jam sehari. Penghasilan mereka bervariasi tergantung situs, dari 400 baht per hari hingga 18.000 baht per bulan.
Pemulangan ini menjadi bagian dari upaya luas pemerintah Laos untuk melawan jaringan ilegal, termasuk perdagangan manusia dan penipuan. Sebelumnya di bulan yang sama, Laos juga memulangkan 24 warga Thailand terkait aktivitas penipuan call center. Operasi ini membutuhkan kerjasama erat antara Laos dan Thailand untuk menangani masalah lintas batas yang melibatkan kejahatan terorganisir. Tanpa adanya bukti perdagangan manusia atau surat penangkapan, deportasi ini menunjukkan tekad Laos untuk menghilangkan operasi ilegal dan melindungi warganya dari dampak negatif aktivitas tersebut.